Travel

Menyelami Sejarah Omah Lowo dan Perubahannya Menjadi Ikon Kota Solo

Solo selalu menyimpan kisah menarik di balik bangunan bersejarahnya. Salah satunya adalah Omah Lowo, rumah legendaris dengan cerita kelelawar yang kini bertransformasi menjadi Heritage Batik Keris yang memesona. Dari luar, fasad bangunannya tetap menampilkan nuansa klasik kolonial, sementara bagian dalamnya memadukan kisah sejarah, seni lokal, dan gaya hidup modern yang menjadikannya unik di jantung Kota Solo.

Artikel berjudul Menyelami Sejarah Omah Lowo dan Perubahannya Menjadi Ikon Kota Solo ini kami hadirkan kembali dalam versi ringkas agar Anda bisa langsung menangkap inti pembahasannya tanpa harus membaca keseluruhan berita di sumber utama. Isinya kami pilih dari topik yang sedang ramai dibicarakan dan relevan dengan kehidupan sehari-hari.

Omah Lowo dibangun pada awal abad ke-20 (sekitar tahun 1920) oleh saudagar kaya Solo bernama Sie Djian Ho sebagai hunian bergaya kolonial. Arsitekturnya menggabungkan gaya Indis tropis dan sentuhan Art Deco yang populer pada masa itu, dengan jendela tinggi, pilar besar, dan ruang dalam yang lapang.

Setelah masa kolonial, bangunan ini sempat berubah fungsi berkali-kali. Ia pernah menjadi markas perjuangan, kantor Pegadaian, gedung veteran, hingga kantor urusan haji dan Kamar Dagang di Solo. Namun seiring waktu, bangunan megah ini lama terbengkalai dan dikenal warga sekitar sebagai rumah angker karena banyak dihuni kelelawar. Dari situlah muncul nama Omah Lowo, yang dalam bahasa Jawa berarti “Rumah Kelelawar”.


Kami menyajikan ringkasan dari artikel ini untuk memudahkan Anda memahami pokok pembahasannya. Anda bisa membaca berita selengkapnya melalui tautan di bawah ini:

Sumber: TrenMedia.co.id